Akibatnya, setiap kali hujan turun, air tidak tertampung dengan baik dan meluap ke badan jalan. Aliran air yang tak terkendali tersebut kemudian menggerus tebing penahan, memicu longsor lanjutan di beberapa titik sepanjang ruas jalan lingkar itu.
Warga menilai kondisi terkini mengingatkan pada peristiwa banjir bandang yang terjadi pada Januari 2024 lalu di wilayah yang sama. Saat itu, banjir dipicu retaknya tebing penahan jalan lingkar, sehingga material longsoran bercampur air menghantam permukiman warga dan menyebabkan kerusakan rumah serta kerugian harta benda.
Seiring memburuknya kondisi tebing dan drainase saat ini, kekhawatiran akan terulangnya banjir bandang kembali mencuat. Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD Kota Sungai Penuh Daerah Pemilihan I, Fery Ariasandi, menyatakan merasa bertanggung jawab terhadap kondisi infrastruktur di wilayah dapilnya. Ia mengaku telah berinisiatif mengajak pihak Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kota Sungai Penuh, didampingi kepala desa serta tokoh masyarakat Desa Talang Lindung, untuk meninjau langsung kondisi jalan, drainase, dan tebing penahan yang mengalami kerusakan.
“Kami bersama pihak Bina Marga Dinas PUPR, kepala desa, dan tokoh masyarakat sudah turun langsung mengecek kondisi jalan lingkar Tebat Gedang. Tebing penahan banyak yang longsor dan parit jalan sudah rata dengan badan jalan. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan berpotensi menimbulkan kembali banjir bandang seperti Januari 2024 lalu jika tidak segera ditangani,” ujar Fery.
Menurutnya, dalam peninjauan tersebut, pihak Bidang Bina Marga menyatakan kesediaannya untuk mengusulkan dan menganggarkan pembangunan tembok penahan tebing serta perbaikan drainase Jalan Lingkar Tebat Gedang yang tembus Taman Bunga pada tahun anggaran 2026. Fery menambahkan, usulan tersebut sebenarnya telah beberapa kali disampaikan melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang).
“Jalan lingkar ini sudah lama diusulkan, baik melalui musrenbang maupun langsung ke Dinas PUPR. Kami berharap rencana penganggaran di 2026 benar-benar direalisasikan,” tegasnya.
Fery juga menekankan aspek psikologis masyarakat setempat yang masih trauma akibat banjir bandang tahun lalu. Ia meminta Pemerintah Kota Sungai Penuh dalam hal ini Bidang Bina Marga Dinas PU-PR untuk tidak menunda penanganan, mengingat kerusakan yang terjadi sudah tergolong parah dan menyangkut keselamatan warga.
“Kalau tidak segera dibangun tembok penahan dan diperbaiki drainasenya, dikhawatirkan akan terjadi banjir bandang susulan. Masyarakat Tebat Gedang masih menyimpan trauma atas kejadian tahun kemarin,” tambahnya.
Diketahui, Jalan Lingkar Tebat Gedang mulai dirintis dan dibangun pada tahun 2011 pada masa kepemimpinan Penjabat Wali Kota almarhum Hasvia. Jalan tersebut tercatat sudah satu kali dilakukan pengerasan dan tiga kali penyekrapan. Perawatan terakhir dilakukan pada era Wali Kota Ahmadi Zubir.
Namun demikian, kondisi jalan kini dinilai kembali rusak akibat minimnya penanganan lanjutan. Padahal, ruas jalan tersebut merupakan akses vital bagi petani untuk mengangkut hasil pertanian setiap hari serta menjadi jalur penghubung antara Desa Talang Lindung dan Desa Sungai Ning di Kecamatan Sungai Bungkal. Warga bahkan mengeluhkan seringnya kecelakaan kecil akibat kondisi jalan yang rusak dan licin, terutama saat hujan.




0 Komentar