Oleh Heru Sragen, Pimpinan Umum Wartasatu.info
Wartasatu.info — Ada yang tetap berdiri di satu garis, meski badai datang silih berganti. Ada pula yang lihai membaca arah angin—dan tak ragu berpindah haluan ketika dirasa lebih menguntungkan.
Fenomena ganti partai memang lagi musim saat ini, tapi tidak sedikit yang mengutamakan loyalitas ke partai, mereka beranggapan toh memperjuangkan aspirasi rakyat tidak harus berpindah pindah partai.
Dalam politik, perpindahan partai kerap dibungkus dengan istilah “dinamika” atau “penyegaran”. Terdengar wajar, bahkan elegan. Namun publik tidak buta. Terlalu sering berpindah justru menimbulkan pertanyaan sederhana: masihkah ada yang diperjuangkan, atau semua sekadar soal posisi?
Partai politik seharusnya menjadi tempat bertumbuhnya gagasan dan komitmen. Bukan sekadar kendaraan yang ditinggalkan ketika dirasa tak lagi memberi ruang. Ketika loyalitas mudah dilepas, maka yang tersisa hanyalah kepentingan jangka pendek yang dibungkus rapi.
Ironisnya, mereka yang dulu lantang membela, bisa seketika menjadi pengkritik setelah berpindah tempat. Seolah prinsip bisa disesuaikan, tergantung di mana berdiri hari ini.
Demokrasi memang memberi ruang kebebasan. Namun kebebasan tanpa konsistensi hanya melahirkan politik tanpa arah. Dan ketika politik kehilangan arah, kepercayaan publik ikut tergerus.
Rakyat tidak sedang mencari siapa yang paling cepat berpindah. Rakyat sedang menilai siapa yang tetap bertahan, bahkan ketika jalan yang dipilih tidak selalu menguntungkan.
Karena pada akhirnya, politik bukan sekadar tentang ke mana Anda pergi—tetapi tentang seberapa teguh Anda berdiri.

0 Komentar