Kerinci, wartasatu.info – Slogan “Pejuang Petani” yang diusung pasangan Monadi–Morison saat Pilkada Kerinci 2024 kini menuai sorotan tajam. Sejumlah warga menilai Bupati Kerinci Monadi belum menunjukkan keberpihakan nyata kepada petani, terutama di wilayah Renah Pemetik, yang hingga kini masih bergulat dengan persoalan infrastruktur dasar.
Sorotan itu menguat setelah kembali diingatnya peristiwa memilukan ketika warga terpaksa memikul jenazah berjalan kaki dari Libuk Tabun menuju Pasir Jaya. Jalan rusak parah membuat kendaraan roda empat tak bisa melintas, sehingga jenazah harus dibawa dengan berjalan kaki menyusuri jalan berlumpur dan berlubang.
Bagi masyarakat setempat, kondisi tersebut menjadi simbol nyata buruknya akses jalan yang selama ini digunakan petani untuk mengangkut hasil pertanian. Ironisnya, jalan itu justru berada di wilayah yang selama kampanye kerap disebut sebagai basis perjuangan petani.
“Waktu kampanye, slogan pejuang petani sangat gencar disampaikan. Tapi setelah terpilih, jangankan kesejahteraan petani, jalan produksi saja dibiarkan rusak,” ujar salah seorang warga Renah Pemetik yang enggan disebutkan namanya.
Warga menilai, jika akses jalan saja belum menjadi prioritas, maka komitmen memperjuangkan nasib petani patut dipertanyakan. Mereka menduga slogan tersebut hanya efektif digunakan untuk meraup suara saat pilkada, tanpa diikuti langkah konkret setelah kekuasaan diraih.
Di sisi lain, hingga berita ini diterbitkan, Bupati Kerinci Monadi belum memberikan tanggapan resmi. wartasatu.info telah berupaya konfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp telah dilakukan dan pesan tercatat centang dua sebagai tanda telah diterima, namun belum ada jawaban.
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera memberikan klarifikasi sekaligus langkah nyata, khususnya perbaikan infrastruktur jalan pertanian. Tanpa itu, janji “pejuang petani” dikhawatirkan hanya akan menjadi slogan kosong yang terus berjarak dengan realitas di lapangan.

0 Komentar