Sungai Penuh, wartasatu.info - Kabut asap yang dalam beberapa pekan terakhir menyelimuti Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi, seharusnya tidak hanya menjadi alasan untuk mengeluh dan membatasi aktivitas di luar rumah. Kondisi ini juga perlu menjadi momentum bagi masyarakat untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih produktif, peduli lingkungan, dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Ketika aktivitas ke ladang terganggu akibat kabut asap, masyarakat masih memiliki pilihan lain, yakni memanfaatkan lahan pekarangan rumah sebagai ruang produktif. Lahan yang selama ini dibiarkan kosong dapat diolah menjadi kebun sayuran sederhana. Bahkan, limbah botol plastik bekas yang kerap berakhir di tempat sampah atau dibakar dapat dimanfaatkan kembali sebagai pot tanaman.
Kabut asap bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga tantangan yang menuntut perubahan perilaku dan aksi nyata dari masyarakat.
Fenomena kabut asap yang berulang di sejumlah wilayah Indonesia umumnya berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan, pembakaran sampah, serta berbagai sumber pencemaran udara lainnya. Di Kota Sungai Penuh, kondisi geografis yang dikelilingi perbukitan berpotensi memengaruhi pergerakan dan penyebaran polutan dalam kondisi cuaca tertentu. Namun, penyebab dan tingkat kontribusi masing-masing sumber asap tetap perlu dipastikan melalui pemantauan yang memadai.
Dampaknya tidak boleh dianggap sepele. Kualitas udara yang memburuk dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan. Aktivitas sehari-hari pun bisa terganggu, sementara kegiatan pertanian dan perekonomian warga berpotensi mengalami penurunan produktivitas.
Dalam situasi seperti ini, kita tidak cukup hanya menunggu kabut asap menghilang. Masyarakat perlu mengambil langkah yang bisa dilakukan mulai dari lingkungan rumah sendiri.
Pekarangan Produktif, Solusi Sederhana yang Bernilai
Salah satu langkah yang dapat dikembangkan adalah gerakan pekarangan produktif. Caranya relatif sederhana dan tidak selalu membutuhkan modal besar.
Rumput liar, daun kering, dan sisa tanaman yang selama ini dibakar dapat dikumpulkan untuk diolah menjadi kompos, selama bahan tersebut tidak tercemar bahan berbahaya. Sampah organik yang dikelola dengan baik bisa menjadi sumber unsur hara bagi tanaman, sekaligus mengurangi kebiasaan membakar sampah yang berpotensi menambah pencemaran udara.
Begitu pula dengan botol plastik bekas air mineral, termasuk botol merek Aqua dan merek lainnya. Daripada dibakar, botol-botol tersebut dapat dipilah, dibersihkan, lalu dimanfaatkan sebagai pot tanaman dengan memperhatikan lubang drainase dan kebutuhan ruang tumbuh tanaman.
Pekarangan rumah dapat ditanami berbagai sayuran yang relatif mudah dibudidayakan, seperti kangkung, bayam, sawi, dan seledri. Pemilihan tanaman tentu perlu disesuaikan dengan luas lahan, ketersediaan sinar matahari, air, serta kondisi lingkungan setempat.
Hasilnya mungkin tidak langsung besar. Namun, jika dilakukan secara konsisten oleh banyak keluarga, gerakan kecil ini berpotensi membantu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, mengurangi pengeluaran belanja sayuran, dan menciptakan lingkungan permukiman yang lebih hijau.
Yang terpenting, masyarakat memiliki kegiatan produktif yang dapat terus dilakukan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada aktivitas di ladang.
Peluang Mendukung Program Makan Bergizi Gratis
Gerakan pekarangan produktif juga berpotensi dikembangkan untuk mendukung kebutuhan pangan lokal, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sayuran yang dihasilkan warga tidak hanya dapat dikonsumsi sendiri, tetapi juga berpeluang dipasarkan kepada dapur penyelenggara MBG di sekolah-sekolah Kota Sungai Penuh. Dengan demikian, kegiatan bercocok tanam di pekarangan bisa membuka peluang tambahan penghasilan bagi keluarga.
Namun, peluang ini perlu dibangun melalui kerja sama yang nyata. Pemerintah daerah, kelompok tani, masyarakat, dan pengelola dapur penyelenggara MBG dapat menjajaki kemitraan agar hasil panen warga memiliki jalur pemasaran yang jelas.
Tentu saja, pasokan sayuran harus memenuhi kebutuhan jumlah, kualitas, kebersihan, keamanan pangan, dan jadwal pengiriman. Warga juga perlu memahami bahwa peluang menjadi pemasok tidak berarti hasil panen otomatis diterima oleh setiap dapur MBG. Semuanya harus mengikuti kebutuhan dan mekanisme pengadaan yang berlaku.
Jika dikelola secara terorganisasi, pekarangan produktif bukan hanya kegiatan penghijauan, melainkan juga dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi keluarga dan rantai pasok pangan lokal.
Empat Manfaat dari Kebiasaan Bertani
Ada prinsip sederhana yang patut kita pegang: jangan biarkan keterbatasan keadaan membuat kita berhenti berkarya. Selama masih ada ruang dan kesempatan, selalu ada sesuatu yang bisa dikerjakan.
Setidaknya, ada empat manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan bercocok tanam di pekarangan.
Pertama, menjaga kebugaran tubuh. Menyiapkan media tanam, menyiram tanaman, dan merawat kebun merupakan bentuk aktivitas fisik ringan yang bermanfaat, selama dilakukan sesuai kondisi kesehatan masing-masing.
Kedua, membuka peluang penghasilan tambahan. Sayuran yang dipanen dapat mengurangi biaya belanja rumah tangga. Jika produksinya mencukupi dan tersedia pembeli, sebagian hasil panen juga dapat dijual.
Ketiga, menghadirkan kepuasan dan kebahagiaan. Melihat benih tumbuh, tanaman berkembang, dan hasilnya dapat dinikmati bersama keluarga memberikan kepuasan tersendiri. Kegiatan ini juga dapat menjadi sarana edukasi bagi anak-anak tentang pangan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Keempat, memanfaatkan waktu secara produktif. Ketika aktivitas di luar rumah perlu dibatasi akibat kualitas udara yang buruk, merencanakan kebun pekarangan dapat menjadi kegiatan alternatif. Meski demikian, pekerjaan berkebun di luar ruangan tetap harus disesuaikan dengan kondisi kualitas udara dan anjuran kesehatan.
Empat manfaat tersebut menunjukkan bahwa bertani tidak selalu harus dilakukan di lahan yang luas. Pekarangan kecil sekalipun dapat memberikan nilai apabila dikelola dengan tekun dan terencana.
Hentikan Pembakaran, Lindungi Kesehatan
Gerakan pekarangan produktif harus berjalan seiring dengan upaya mengurangi sumber pencemaran udara. Masyarakat perlu menghentikan kebiasaan membakar sampah, daun kering, dan sisa tanaman secara terbuka. Sampah perlu dipilah, sampah organik diolah dengan tepat, sedangkan sampah anorganik yang dapat didaur ulang dikumpulkan untuk disalurkan ke jalur pengelolaan yang sesuai.
Pemerintah daerah juga perlu mengambil peran melalui edukasi, pengawasan, penyediaan fasilitas pengelolaan sampah, serta pemantauan kualitas udara. Informasi mengenai kondisi udara harus disampaikan secara terbuka agar masyarakat dapat menentukan langkah perlindungan yang tepat.
Di tengah kondisi udara yang buruk, masyarakat tetap perlu mengutamakan kesehatan. Gunakan masker yang sesuai dengan tingkat paparan, kurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan, dan ikuti informasi kualitas udara serta anjuran petugas kesehatan. Memperbanyak minum air putih dapat membantu menjaga kecukupan cairan tubuh, tetapi tidak dapat menggantikan perlindungan dari paparan polutan.
Apabila muncul sesak napas, nyeri dada, atau keluhan pernapasan yang berat, segera cari pertolongan medis.
Kita tentu berharap langit Kota Sungai Penuh kembali biru dan udara kembali bersih. Namun, harapan itu harus disertai tindakan nyata, bukan hanya keluhan.
Mari berhenti membakar sampah. Mari manfaatkan pekarangan. Mari ubah limbah menjadi sesuatu yang berguna dan lahan kosong menjadi sumber pangan keluarga.
Gerakan pekarangan produktif mungkin bukan solusi tunggal untuk mengatasi kabut asap, tetapi dapat menjadi langkah nyata dalam membangun masyarakat yang lebih peduli lingkungan, tangguh menghadapi keadaan, dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Kota Sungai Penuh dapat memulai perubahan dari rumah masing-masing. Sebab, lingkungan yang lebih baik tidak hanya dibangun melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga melalui kesadaran dan kebiasaan baik setiap warga.
Talang Lindung, 25 Oktober 2026
Ery Firmansyah

0 Komentar