Sungai Penuh, wartasatu.info – Di awal masa jabatannya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sungai Penuh, Wahyu Rahma Dedy, sempat menjadi sasaran kritik dan cemoohan. Banyak pihak meragukan kemampuannya mengatasi persoalan sampah yang selama bertahun-tahun menjadi masalah klasik di kota ini.
Tetapi, bukan Wahyu namanya jika menyerah menghadapi cibiran. Tekanan dan kritik justru menjadi pemacu semangatnya. Hampir setiap hari ia bekerja hingga larut malam, memikirkan strategi agar persoalan sampah dapat diatasi tanpa menimbulkan masalah baru. Dalam setiap langkah, Wahyu juga tetap koordinasi dengan Wali Kota Alfin dalam segala kebijakan yang diambil, memastikan setiap program sejalan dengan visi pemerintah daerah.
Sejak awal menjabat, Wahyu langsung menjadikan penanganan sampah sebagai prioritas utama. Ia menghadapi kondisi lapangan yang berat: titik-titik penumpukan sampah, keluhan warga yang terus berdatangan, hingga persoalan teknis dan sosial di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Meski dicaci dan dimaki, Wahyu tidak gentar. Ia turun langsung melihat persoalan, memastikan ritme pengangkutan sampah berjalan, dan menyusun sistem yang lebih terarah.
Berbagai program yang ia rumuskan pun mulai menunjukkan hasil. Pengelolaan sampah ditata melalui pembentukan TPS3R berbasis desa, TPS3R skala kawasan, hingga pembangunan TPST sebagai pusat pengolahan modern. Meski sempat diragukan banyak pihak, kebijakan tersebut terbukti memperbaiki alur penanganan sampah kota.
Konsistensi Wahyu yang terjaga sejak era Wali Kota Ahmadi hingga kepemimpinan Wali Kota Alfin, serta koordinasi intens yang terus dibangun, semakin memperkuat fondasi sistem pengelolaan sampah yang lebih tertib dan efisien.
Kini, perubahan dapat dirasakan. Titik penumpukan sampah berkurang signifikan, proses pengangkutan lebih teratur, dan keluhan masyarakat terus menurun. Kota Sungai Penuh perlahan keluar dari krisis sampah yang dulu seolah tidak berujung.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa Wahyu tidak hanya mampu mengelola persoalan sampah, tetapi juga mengatasinya secara sistematis dan terukur. Dari dicaci dan dimaki, kini Wahyu layak dipuji atas kerja keras, komitmen, serta kemampuannya menjaga koordinasi dan membangun sistem yang kokoh.
Perubahan yang terjadi saat ini menegaskan satu hal: kerja nyata selalu lebih lantang daripada kritik.

0 Komentar