Sungai Penuh, wartasatu.info – Keris merupakan salah satu mahakarya budaya Nusantara yang terus berkembang mengikuti perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa. Banyak masyarakat beranggapan bahwa semua keris lurus berasal dari zaman yang sama. Padahal, setiap era memiliki karakter, teknik tempa, serta ciri khas yang berbeda.
Perbedaan tersebut dapat dikenali melalui bentuk bilah, pamor, ricikan (bagian-bagian keris), hingga kualitas pengerjaan yang oleh para ahli tosan aji dikenal sebagai tangguh, yakni perkiraan periode pembuatan keris berdasarkan gaya dan karakter fisiknya.
1. Keris Lurus Era Mataram Kuno (Abad ke-8 hingga ke-10)
Keris yang dikaitkan dengan masa Kerajaan Mataram Kuno merupakan jenis yang paling langka. Bahkan, hingga kini sangat sedikit contoh fisik yang dapat dipastikan berasal dari periode tersebut.
Secara umum, keris pada masa ini memiliki bentuk sederhana dengan bilah lurus, ramping, dan minim ornamen. Pamornya tidak menonjol, sementara bagian ganja, sor-soran, maupun ricikan lainnya masih sangat sederhana. Hal ini mencerminkan tahap awal perkembangan seni tempa keris di Nusantara.
2. Keris Lurus Era Majapahit (Abad ke-13 hingga ke-15)
Memasuki masa Majapahit, seni pembuatan keris berkembang sangat pesat. Walaupun banyak dikenal dengan keris berluk, keris lurus tetap diproduksi dalam jumlah besar.
Perbedaannya dibanding era Mataram Kuno terlihat jelas. Bilah mulai lebih proporsional, pamor semakin beragam, ganja dan ricikan mulai berkembang, serta teknik tempa menjadi lebih halus. Pada masa ini juga lahir berbagai dapur keris terkenal seperti Tilam Upih, Brojol, hingga Singo Barong.
Sejumlah peneliti bahkan menyebut penyebaran keris ke berbagai wilayah Asia Tenggara mencapai puncaknya pada masa Majapahit.
3. Keris Lurus Era Mataram Islam (Abad ke-16 hingga ke-18)
Periode Mataram Islam sering dianggap sebagai masa keemasan seni perkerisan Jawa. Para empu berhasil menyempurnakan bentuk bilah, pamor, dan estetika keris.
Keris lurus pada masa ini tampil lebih ramping, elegan, dan memiliki proporsi yang sangat seimbang. Pamor dibuat semakin indah dan rumit, sementara detail ricikan seperti gandik, pejetan, sogokan, hingga ganja dikerjakan dengan sangat halus.
Warangka dan hulu keris pun berkembang menjadi karya seni tersendiri dengan berbagai model, seperti ladrang dan gayaman, yang hingga kini masih menjadi ciri khas keris gaya Surakarta dan Yogyakarta.
Tidak Semua Keris Lurus Berasal dari Mataram Kuno
Para ahli tosan aji mengingatkan bahwa bentuk lurus bukan berarti otomatis menunjukkan usia yang lebih tua. Keris lurus dibuat pada hampir semua periode sejarah, mulai dari Mataram Kuno, Majapahit, Demak, Mataram Islam, hingga masa Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.
Karena itu, penentuan usia sebuah keris tidak hanya melihat apakah bilahnya lurus atau berluk, melainkan juga memperhatikan teknik tempa, jenis pamor, bentuk ricikan, material logam, hingga gaya pengerjaannya secara keseluruhan.
Perbandingan Singkat
• Mataram Kuno: lurus, sederhana, minim pamor dan ornamen.
• Majapahit: lurus lebih proporsional, pamor mulai berkembang, ricikan semakin lengkap.
• Mataram Islam: lurus lebih ramping, pamor sangat indah, detail pengerjaan mencapai tingkat seni tertinggi.
Dengan memahami perbedaan tersebut, masyarakat diharapkan tidak mudah mempercayai klaim bahwa sebuah keris merupakan peninggalan Mataram Kuno hanya karena bentuknya lurus. Penilaian usia dan asal-usul keris tetap memerlukan kajian mendalam oleh ahli tosan aji melalui analisis

0 Komentar