Sungai Penuh, wartasatu.info – Gelaran Pasar Rakyat dalam rangka HUT Kota Sungai Penuh ke-17 menuai kritik tajam dari publik. Kegiatan yang seharusnya menjadi penggerak ekonomi masyarakat lokal ini dinilai justru lebih menguntungkan pedagang dari luar daerah, sehingga perputaran uang yang dihasilkan tidak bertahan di Sungai Penuh.
Netizen bernama Awen D.System melontarkan kritik keras terhadap kebijakan Pemkot yang dianggap tidak pro-UMKM lokal.
“Pasar rakyat dipenuhi pedagang dari luar. Habis acara, uang banyak dibawa keluar Kota Sungai Penuh. Putaran uang jadi kecil. Seharusnya yang dagang itu masyarakat kota dan kuliner UMKM desa-desa di Sungai Penuh. Fungsikan yang ada di kota ini,” tulisnya.
Awen menilai, Pemkot seharusnya lebih memprioritaskan pedagang dan UMKM lokal, bukan justru mempersilakan pedagang dari luar meraup keuntungan. Jika alasan Pemkot adalah soal sewa lapak dan tenda yang mahal, maka menurutnya solusinya bukan memberi karpet merah untuk pendatang, melainkan memberikan subsidi tenda bagi pedagang lokal agar bisa hidup dan berkembang.
“Pemkot itu harusnya utamakan pedagang dan UMKM lokal. Kalau soal sewa mahal, ya subsidi tenda untuk warga kita sendiri. Ini untuk menghidupkan ekonomi masyarakat Sungai Penuh, bukan orang luar,” tegasnya.
Awen juga menyindir bahwa jika pola seperti ini terus dibiarkan, Sungai Penuh hanya menjadi tempat penjualan, bukan penerima manfaat ekonominya.
“Kalau pedagang luar mendominasi pasar rakyat, Pemkot tak dapat untung banyak. Tapi hanya dapat retribusi dan sampah,” ujarnya tajam.
Pedagang Lokal Merasa Dianaktirikan
Keluhan serupa datang dari seorang pedagang lokal yang enggan disebut namanya. Ia menilai pasar rakyat justru merugikan pelaku usaha asli daerah yang selama ini berjuang mempertahankan usahanya.
“Kami merasa tidak diutamakan. Acara besar seperti ini harusnya jadi kesempatan bagi pedagang lokal untuk naik. Tapi malah yang diuntungkan pedagang luar,” ungkapnya kecewa.
Pemkot Dituntut Berpihak pada Pelaku Usaha Lokal
Warganet menegaskan, kebijakan mendatangkan pedagang luar hanya memberi keuntungan jangka pendek bagi kas daerah, namun merugikan ekonomi masyarakat. Keuntungan hasil transaksi justru dibawa pulang ke daerah asal pedagang, sementara Sungai Penuh hanya menanggung retribusi dan tumpukan sampah setiap hari.
Pengamat kebijakan publik menilai, pasar rakyat mestinya menjadi ruang promosi bagi produk lokal, kuliner tradisional, dan UMKM desa-desa di Sungai Penuh. Namun jika konsepnya tidak berubah, momen perayaan daerah hanya akan menjadi panggung panen rupiah bagi pedagang luar kota.
Publik kini mendesak Pemkot untuk melakukan evaluasi total terhadap penyelenggaraan pasar rakyat ke depan serta menetapkan aturan tegas: prioritas wajib diberikan bagi pedagang dan UMKM asli Kota Sungai Penuh.
Jika tidak, kegiatan semacam ini hanya akan kembali menjadi ajang “jual beli di tanah orang, untung dibawa pulang”—sementara masyarakat lokal hanya menjadi penonton dan pembuang sampahnya.

0 Komentar