Sungai Penuh,wartasatu.info — Sejak dilantik pada 20 Februari 2025, Wali Kota Alfin, S.H. mulai menata arah baru pemerintahan Kota Sungai Penuh dengan visi “JUARA – Maju, Adil, Sejahtera.” Dalam delapan bulan pertama kepemimpinannya, sejumlah capaian positif mulai tampak, meski tidak sedikit pula tantangan dan sorotan publik yang mengiringi.
Langkah Positif: Reformasi dan Transparansi Fiskal
Salah satu capaian paling menonjol dari pemerintahan Alfin adalah kembali diraihnya opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas laporan keuangan Pemkot Sungai Penuh tahun anggaran 2024. Capaian ini memperpanjang rekor WTP beruntun dan menjadi sinyal konsistensi dalam pengelolaan keuangan daerah.
Selain itu, Alfin juga dikenal aktif melakukan sinergi lintas kementerian untuk memperjuangkan pembangunan strategis, seperti normalisasi sungai, penyediaan air bersih, dan penataan ruang kota. Dalam beberapa kunjungan ke Kementerian PUPR dan Bappenas, ia menegaskan komitmen membawa lebih banyak dana pusat masuk ke daerah.
Tak hanya itu, Pemkot di bawah kepemimpinannya mulai menunjukkan perhatian terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan, dibuktikan dengan dikukuhkannya Forum Kota Sehat 2025–2030 yang menargetkan predikat “Wistara” dari Kementerian Kesehatan.
Program Inklusif dan Pelestarian Budaya
Di sektor sosial, Alfin menegaskan arah pembangunan yang inklusif — menempatkan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat kecil sebagai prioritas utama. Pemerintahannya juga mendapat apresiasi dalam pelestarian bahasa dan kebudayaan daerah, memperkuat citra pemimpin yang berpihak pada identitas lokal dan nilai-nilai budaya Kerinci–Sungai Penuh.
Sorotan dan Kelemahan: Komunikasi Publik Lemah
Namun, di tengah berbagai langkah positif tersebut, sorotan publik juga bermunculan. Salah satunya terkait transparansi data dan komunikasi publik yang dinilai belum maksimal. Sejumlah kebijakan strategis — seperti pengadaan kendaraan dinas, pembangunan instansi vertikal yang menggunakan dan APBD dan proses administrasi PPPK — sempat menimbulkan persepsi negatif karena kurangnya penjelasan terbuka kepada masyarakat.
Beberapa ASN bahkan menyebut pemanggilan ke BKPSDM tidak disertai dasar yang jelas, sehingga menimbulkan kegaduhan birokrasi. Penggabungan OPD untuk efisiensi pun belum diikuti dengan sosialisasi dan peta jabatan yang matang, sehingga menimbulkan keresahan di tingkat pegawai.
Di sisi lain, tantangan infrastruktur dasar seperti banjir, pengelolaan sampah, dan jalan lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemkot. Meski normalisasi sungai mulai digenjot, masyarakat menilai hasilnya belum terasa secara nyata di lapangan.
Tantangan Ke Depan
Beberapa analis menilai bahwa kepemimpinan Alfin kini memasuki fase “pembuktian.” Setelah konsolidasi birokrasi dan stabilisasi keuangan, fokus berikutnya adalah menyentuh kebutuhan langsung masyarakat, terutama perbaikan layanan publik, transparansi data kinerja, serta pemerataan pembangunan antar-kecamatan.
Sejumlah pihak juga mendorong agar Pemkot membuka dashboard publikasi capaian pembangunan — semacam laporan kinerja terbuka — agar masyarakat bisa ikut mengawasi dan menilai kemajuan visi “JUARA” yang dicanangkan.
Suara Publik
Seorang akademisi dari Universitas Kerinci, Kurniadi Aris. SH,MH,MM., menilai, “Secara visi, Alfin sudah menunjukkan arah yang baik dan realistis. Tapi tanpa komunikasi publik yang kuat dan konsistensi di lapangan, capaian administratif tidak akan cukup mengubah persepsi masyarakat.”
Kesimpulan
Delapan bulan memimpin, pemerintahan Alfin menunjukkan kombinasi antara gebu reformasi dan tantangan klasik birokrasi daerah. Capaian keuangan dan sinergi dengan pusat layak diapresiasi, namun tantangan terbesar justru berada di ranah transparansi, disiplin aparatur, dan efektivitas program langsung ke masyarakat.
Apabila mampu menuntaskan PR birokrasi dan memperkuat komunikasi publik, Wali Kota Alfin berpeluang besar mengembalikan kepercayaan masyarakat Sungai Penuh — sekaligus menegaskan arah perubahan yang benar-benar dirasakan warga.
Penulis: Heru Sragen
Sumber: Hasil observasi lapangan

0 Komentar