Sungai Penuh, Warta Satu – Kisah pilu datang dari Darmanto 36 tahun, seorang sopir truk asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang menjadi korban penipuan segi tiga. Niat mencari tambahan rezeki justru berubah menjadi penderitaan panjang yang membuatnya kehilangan harta, tenaga, dan hampir seluruh harapan.
Berawal dari perjalanannya mengantar muatan ikan dari Pati menuju Pekanbaru, Darmanto berniat mencari muatan tambahan untuk perjalanan pulang ke Jawa. Melalui media sosial Facebook, ia menemukan tawaran muatan susu dari Jambi ke Lampung dengan upah Rp5 juta. Tanpa curiga, ia pun mengikuti arahan pihak yang mengaku sebagai pemesan.
Namun, nasib berkata lain. Sesampainya di Rawang, Kota Sungai Penuh, bukannya mendapatkan muatan seperti dijanjikan, Darmanto justru dituduh sebagai penipu oleh seseorang bernama Amilius, yang mengaku sebagai sales susu. Amilius menduga Darmanto membawa kiriman susu untuk dirinya, padahal Darmanto sendiri hanya mengikuti instruksi dari pihak yang mengaku sebagai “bos susu” dari Lampung — yang belakangan diketahui adalah pelaku penipuan.
Akibat salah paham tersebut, Darmanto diminta membayar ganti rugi sebesar Rp40 juta oleh Amilius, yang mengaku telah mentransfer uang kepada pihak pengirim susu fiktif itu. Bahkan, mobil boks yang dikendarai Darmanto sempat ditahan selama sehari semalam oleh Amilius dan nyaris digadaikan.
Demi menjaga keamanan kendaraannya, Darmanto akhirnya menitipkan mobil tersebut ke Polres Kerinci, namun hingga lima hari kemudian belum ada penyelesaian. Darmanto menegaskan dirinya tidak mampu memenuhi permintaan ganti rugi karena ia pun merupakan korban dari modus penipuan ini.
“Saya ini cuma sopir, saya juga ditipu. Saya tidak tahu harus ke mana lagi minta tolong. Mobil saya titipkan di Polres, uang habis, anak saya di rumah sakit, motor sudah dijual buat biaya, mobil ini pun mobil rental yang belum saya bayar sewanya,” ujar Darmanto dengan mata berkaca-kaca dan akhirnya menangis saat ditemui di Sungai Penuh.
Kini, sudah hampir seminggu Darmanto terkatung-katung di Kota Sungai Penuh tanpa kepastian. Uang bekal habis, tempat tinggal tidak ada, bahkan untuk makan sehari-hari ia harus menumpang di warung nasi. Sementara itu, anaknya yang sedang sakit di kampung harus ditanggung istri seorang diri, menambah berat beban yang harus dipikulnya.
Situasi ini membuat Darmanto benar-benar terpukul. Ia berharap ada keadilan dan kepedulian dari aparat penegak hukum demi memediasi dirinya dan Amilius untuk membantunya keluar dari jerat masalah ini. “Saya cuma ingin mobil saya kembali dan bisa pulang. Saya tidak menipu siapa pun, saya juga korban,” ucapnya lirih.
Kasus yang menimpa Darmanto menjadi pengingat bahwa modus penipuan melalui media sosial semakin beragam dan kompleks. Para sopir truk dan pekerja jasa angkutan diminta untuk lebih waspada terhadap tawaran muatan online yang belum jelas sumber dan identitas pengirimnya.

0 Komentar